Mereka

Pagi yang seperti biasa. Membosankan. Semua rutinitas yang terus berulang membuatku tak ubahnya seperti robot dalam menjalani hidup ini. Pagi yang sama, kegiatan yang sama, halte yang sama pemandangan yang sama. Namun ada satu hal yang selalu menarik perhatianku setiap pagi, yaitu sepasang kakek-nenek yang berada di seberang halte tempat aku biasa menunggu bus.

Hanya sepasang manula yang sudah tua renta. Kurasa mereka gelandangan, setiap pagi aku selalu melihat mereka di pinggir jalan dengan pakaian yang kumal dan compang-camping yang sama. Sebuah gerobak reyot selalu setia mendampingi mereka, gerobak yang biasa digunakan sang kakek untuk membawa istrinya jalan-jalan. Tidak ada yang istimewa dari penampilan mereka. Namun yang menarik perhatianku adalah rasa di antara mereka. Ada rasa sayang yang sangat jelas terpancar dari mata si kakek saat memandang istrinya yang bahkan sudah sulit berbicara. Stroke kurasa. Setiap pagi aku melihat kakek itu akan menyuapi si nenek dengan sabar dan penuh kasih sayang, mengajaknya bicara walaupun tak lagi mendapat tanggapan yang jelas, hanya anggukan lemah dan senyum yang terlihat aneh, bahkan kadang menyeramkan menurutku. Namun demikian. Namun demikian, tak pernah aku melihat kakek itu makan. Hanya segelas-dua gelas air mineral. Itu saja. Terkadang pula aku melihat mereka tidur di trotoar di seberang jalan tersebut. Lebih tepatnya, sang nenek tertidur dengan pulas, sedangkan sang kakek berbaring di sebelahnya, menyelimutinya dengan kain tipis yang sudah kumal dan lusuh. Membelai rambut sang nenek yang sudah memutih dan kusut—entah kapan terakhir kali rambut itu dicuci—serta memandang wajah tidur sang nenek dengan penuh cinta. Terkadang aku merasa iri melihat sang nenek, betapa bahagia hidupnya karena ada yang mencintainya seperti itu. Memang, mungkin mereka tidak memiliki rumah atau harta, tapi seperti yang temanku pernah katakan, mungkin cinta memang sudah cukup.

Bus menuju sekolahku datang. Sudah waktunya aku pergi. Selamat tinggal kakek, selamat tinggal nenek, selamat datang kenyataan. Sekali lagi, rutinitas berulang kembali.



Pagi yang sama, rutinitas yang sama. Sudah lama aku merasa bosan dengan hidupku. Terkadang aku berpikir untuk mengakhiri hidup saja. Toh hidupku seakan tidak bertujuan ini, untuk apa aku terus melanjutkan hidup? Haha! Mengerikan, pikiran untuk mengakhiri hidup saja sudah membuatku merinding! Ya sudahlah, terlalu banyak mengeluh juga tidak akan mengubah kenyataan bahwa rutinitas ini akan terus berulang. Terkadang aku menantikan sebuah drama dalam hidupku, agar segalanya menjadi lebih menarik. Entahlah, mungkin sebuah drama yang menyedihkan? Atau mengharukan? Apapun boleh asalkan hidupku menjadi menarik.

Seperti biasa, aku memandangi pasangan unik di seberang jalan. Namun hari ini ada yang berbeda. Sang kakek tetap membelai rambut istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang, bahkan sekali-dua kali mengecup keningnya dengan mesra, tetapi aku tidak melihat adanya reaksi dari sang nenek. Sepertinya sang nenek hanya diam, terkulai lemas dalam gerobak tempatnya biasa tidur.

Rasa penasaran yang besar mendorongku untuk menyebrangin jalan yang agak senggang pagi itu. Perlahan aku menghampiri sang kakek yang masih tersenyum memandangi istrinya dengan penuh cinta. “Maaf, Kek,” sapaku ragu-ragu, “ada apa dengan nenek?” Sang kakek hanya tersenyum lembut mendengar pertanyaanku yang polos. Sorot matanya—aku tidak tahu, terlalu banyak emosi bercampur-aduk di sana—terlihat sendu, rasa cinta, sedih, pilu, sakit, seakan itu semua menari-nari dalam matanya yang bening dan terlihat lelah. Kantung matanya yang gelap seolah semakin memancarkan rasa pilunya. Baru kali ini aku melihatnya sedekat ini.

“Adik kelas berapa?” Tanyanya lembut, seolah menghindar untuk menjawab pertanyaanku tadi. Aku hanya menatapnya bingung, tidak mengerti korelasi antara pertanyaan yang kuajukan tadi dengan pertanyaan yang diajukannya.

“Umm, kelas 3 SMP, Kek,” jawabku pada akhirnya. Senyum di wajah kakek itu semakin mengembang, mempertegas kerut-kerut di wajahnya yang sudah terlihat uzur.

“Adik mau berangkat sekolah?” Tanyanya lagi, memandang seragam putih-biruku. Aku menimbang-nimbang, sebentar lagi aku akan menghadapi ujian nasional, tetapi perasaanku mengatakan bahwa lebih baik untuk hari ini aku duduk dan menemani sang kakek dan nenek. Akhirnya perlahan menggelengkan kepala. “Mau menemani kakek di sini? Ada sebuah dongeng yang ingin kakek ceritakan,” ujarnya sambil menepuk-nepuk trotoar, menyuruhku untuk duduk di sebelahnya. Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah kakek ini benar dapat dipercaya? Dongeng macam apa yang ingin diceritakannya?

Kakek itu berdehem, mempersiapkan diri untuk memulai ceritanya. Tangannya yang sudah terlihat kisut, menggenggam tangan istrinya erat-erat, seolah takut istrinya akan menghilang bila ia melepaskan genggamannya tersebut. Kemudian dia memandang istrinya sekali lagi, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya pada diriku yang duduk menunggu. “Dulu sekali, ada pasangan suami-istri yang bahagia,” sang kakek memulai ceritanya, “mereka hidup bergelimang harta dengan anak-anak yang sehat, lucu, cerdas, tampan, dan cantik.”

“Namun, suatu hari, sang suami merasa tidak puas dengan kehidupannya. Di matanya, istrinya telah buruk rupa, sudah tua, sudah tidak menarik bagi birahi si lelaki ini. Dengan kurang ajar, lelaki tersebut kemudian meniduri sekretarisnya. Bukan memerkosa, tetapi sekretarisnya pun menawarkan diri. Tubuh yang putih mulus dan molek, rambut ikal yang menggoda, sungguh perempuan idaman setiap lelaki. Tidak terkecuali lelaki ini.

Berulang kali dia tidur dengan sekretarisnya tersebut. Sampai akhirnya berita ini menyebar di seluruh kantornya. Termasuk istri dan anak-anaknya pun mendengar hal ini. Sedih tak terkira sudah istrinya, tak luput pun anak-anaknya—bahkan mereka sudah penuh diliputi kemarahan tiada tara terhadap ayahnya. Namun lelaki ini tidak peduli. Baginya hartanya sudah cukup untuk membayar semua kesalahannya, baginya selama hartanya masih mengalir untuk keluarganya, itu sudah membuat keluarganya bahagia. Semua itu salah, istrinya sudah hancur-lebur hatinya, tetapi tetap bersikukuh untuk terus berada di sisi suaminya. Ia yakin suatu saat suaminya akan kembali ke jalan yang benar, dan ia bersedia untuk menunggu hingga saat itu tiba. Tanpa pengecualian, kondisi apa pun.

Lelaki ini semakin lama semakin terikat dengan sekretarisnya ini. Lama-kelamaan segala hartanya mulai diberikan kepada perempuan tersebut. Hal ini semakin memuncakkan kemarahan anak-anaknya. Sudah berulang-kali anak-anaknya berkata kepada ibunya untuk berpisah saja dengan lelaki ini, tetapi ibunya tetap bersikukuh, dia percaya bahwa cinta suatu saat dapat mengalahkan segalanya. Konyol, itulah pikir anak-anaknya pada saat itu. Harta mereka semakin lama semakin menipis. Bahkan ahli waris sudah dipindah-tangankan kepada sekretarisnya tersebut, tanpa mengacuhkan pendapat dari anak-anak maupun istrinya.

Anak-anaknya pada akhirnya merasa muak dengan segala tingkah-polah ayahnya. Mereka yang saat itu sudah beranjak dewasa, memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut. Proses membujuk sang ibu gagal, sang ibu tetap dengan keras kepala mengatakan akan menunggu suaminya kembali. Akhirnya apa mau dikata, sang ibu pun ditinggalkan sendiri oleh anak-anaknya, sementara satu per satu perabotan dan benda-benda dalam rumah tersebut mulai lenyap karena digunakan lelaki tersebut untuk membiayai sekretarisnya.

Pada akhirnya, seperti yang sudah diduga, lelaki ini kehabisan semua hartanya. Dia pun jatuh miskin. Ditambah lagi, dengan kurang ajarnya sekretaris ‘teman bermainnya’ pun meninggalkannya, “sudah tidak ada harta yang bisa kuambil lagi darimu,” itulah kata-kata terakhir dari sekretarisnya sebelum pergi meninggalkannya. Lelaki ini pun sudah dipecat dari pekerjaannya karena skandal yang dimilikinya. Sudah tidak ada lagi harta yang dimilikinya. Hanya satu yang masih dimilikinya, cinta dari istrinya. Hanya itu yang tersisa.



Saat itulah kemudian lelaki ini menyadari, betapa berharganya istrinya. Bahwa istrinya selalu berada di sisinya apa pun yang terjadi, tetap setia menantinya kembali sebrengsek apa pun dirinya. Namun saat dia menyadari hal tersebut, semua sudah terlambat, istrinya terkena stroke. Hilang sudah segala kemampuannya untuk menyenangkan suaminya. Seandainya dulu, biaya pengobatan ini pasti terlihat murah untuknya, tetapi bahkan sekarang rumah pun mereka sudah tidak punya, sudah disita untuk membayar hutang-hutangnya. Tak dapat lelaki ini memaafkan dirinya, tidak melihat cinta yang begitu besar dari istrinya. Hilang sudah sayang dari anak-anaknya, tetapi tidak dengan cinta dari istrinya. Namun saat ia menyadarinya, semua sudah terlambat baginya untuk balas mencintai istrinya. Mungkin itulah hukuman dari Tuhan untuknya yang sempat berpaling ke jalan yang gelap, dan hukuman ini tidak terkira sakitnya bagi lelaki ini. Cinta saja tidak cukup baginya untuk menebus segala dosa dan kesalahan pada istrinya. Namun istrinya menerimanya kembali, dengan cinta yang sama seperti dulu, dengan perasaan yang sangat tulus, ia memaafkan suaminya. Akhir dari cerita ini adalah seperti yang kau lihat saat ini, Nak…” Akhirnya kakek itu menamatkan ceritanya. Tak terasa sebulir air mata mengalir turun di wajahku. Sakit rasanya dadaku mendengar cerita sang kakek.

Susah payah aku menahan tangis dan menelan air ludah, “lalu, apa yang akan Kakek lakukan sekarang? Ada apa dengan nenek?” Aku kembali mengulangi pertanyaanku di awal tadi. Sekali lagi sang kakek hanya tersenyum.

“Nenek sekarang sudah tenang, Nak, dia sudah selesai memberikan hadiahnya untukku. Walaupun tugasku untuknya masih belum selesai, masih banyak hutang yang harus kubayarkan kepadanya, tetapi untuk tugas terakhirku sekarang adalah membawanya ke tempat tidurnya yang terakhir dan terbaik.” Hanya itu jawaban sang kakek. Tangannya yang keriput kemudian mulai menarik gerobak tuanya. Tubuh sang nenek yang sudah kaku, terlihat meringkuk dalam gerobak tersebut. “Selamat tinggal, Nak! Hidup ini adalah sebuah anugerah terindah!” Pesan sang kakek seraya melambaikan tangannya padaku.

Langit sore ini mendung, tetapi matahari bersinar cerah, membuat suasana sore yang berwarna jingga ini menjadi sendu. Satu cerita itu sudah membuka mataku. Setiap hal kecil yang kita miliki adalah sebuah anugerah. Aku bodoh karena sudah meremehkan hidupku. Menjalani hidup bagai robot atau menikmati setiap momennya, itu merupakan pilihan sendiri, dan aku bodoh karena sudah memilih untuk menjadi
robot dan mengutuk hidupku.

Pertemuan dengan pasangan kakek-nenek itu sudah mengubah hidupku. Sekarang setiap momen adalah suatu harta tersendiri yang tidak akan pernah terulang lagi bagiku. Sekarang aku memandang segalanya berbeda. Sebuah cerita yang singkat, tetapi rumit dan penuh lika-liku, aku mengucapkan banyak terima kasih kepada sang kakek karena telah mengubah hidupku menjadi lebih berarti berkat ceritanya. Namun saat selesai bercerita, saat itulah terakhir kali aku bertemu dengannya…

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Nama di Bawah Hujan

Aku ingat saat pertama bertemu dengannya. Saat hujan seperti ini. Tiga tahun yang lalu.

Hujan deras mengguyur rerumputan yang mulai layu. Aku yang sedang bercanda dan tertawa bersama teman-temanku dalam ruangan kafe yang hangat. Tiba-tiba aku melihatnya. Tubuhnya yang dibalut kaus berwarna merah tampak mencolok dari kejauhan. Payungnya yang berwarna biru metalik tampak seolah berbinar di bawah sinar lampu yang agak redup. Seperti biasa, wajahnya yang rupawan tampak lelah, tetapi posturnya tetap tegap, seolah baik-baik saja.

Kemudian dia berjalan mendekat sambil melipat payungnya. Saat dia melewati meja kami, terlihat beberapa tetes bekas air hujan menetes dari rambutnya yang cokelat dan lengannya yang putih bagai pualam. Tak lama kemudian dia memutuskan untuk duduk tak jauh dari kami. Teman-temanku masih terus bercanda dan tertawa tanpa ada yang menghiraukannya, mereka benar-benar tidak menyadari keberadaan lelaki ini.

Sudah banyak aku melihat lelaki tampan, tetapi ini pertama kalinya aku benar-benar terpana melihat seseorang. Tanpa tersenyum, tanpa berekspresi, matanya seolah-olah sudah bercerita mengenai banyak hal. Ada sesuatu yang misterius mengenai dirinya, dirinya yang selalu datang tiap hujan tiba, sesuatu yang berhasil menjerat diriku. Sulit untuk melepaskan pandanganku darinya. Nama, itu yang aku butuhkan darinya sekarang. Namanya. Dirinya seorang, dirinya yang selalu datang saat hujan tiba.

Lama aku memandanginya. Tiba-tiba dia sedikit terlonjak dari duduknya. Dengan cepat dia meraih telepon genggam di kantung celananya. Sebuah pesan kurasa. Sebuah senyum simpul tersungging di wajahnya yang nyaris sempurna. Sebuah senyum yang membuat hatiku sakit, karena aku tahu senyum itu takkan pernah untukku, sekarang maupun selamanya. Sekarang, saat semuanya telah terlambat.

Bel di pintu masuk berdenting. Seorang perempuan dengan kulit bak pualam dan sehalus sutra tampak membuka pintu. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang tampak membingkai wajah indahnya yang oval, semakin menonjolkan matanya yang hitam dan berbinar-binar. Jari-jarinya yang panjang dan lentik bergerak dengan anggun untuk menutup payungnya yang berwarna keperakan.

Lelaki tadi kemudian berdiri, menghampiri perempuan ini. Sebuah senyum yang secerah mentari pagi, sebuah senyum yang selalu berhasil menghentikan jantungku, tampak dengan jelas di wajahnya yang selalu ingin kubelai. Kemudian dia memeluk perempuan ini dengan mesra, sebelum akhirnya menciumnya dengan penuh kasih sayang. Sekali lagi, aku terenyak. Air mata mulai mengalir turun di wajahku yang kini pucat. Walau demikian aku tetap tersenyum. Aku tahu, sudah lama aku tahu, bahkan sejak pertama kali melihatnya waktu itu, aku tahu bahwa hatinya sudah ia serahkan pada yang lain. Aku tahu itu, tetapi apa daya, hatiku tetap tidak mau mendengar perintah untuk tidak menangis. Aku telah jatuh hati padanya...

Teman-temanku mulai beranjak berdiri untuk pergi, kembali meninggalkan diriku sendiri di sini. Mereka masih terus bercanda dan tertawa, sampai sahabatku menoleh menatapku. Matanya berkaca-kaca. Tiba-tiba berkata kepada yang lain, "ingatkah kalian saat terakhir kali kita bersamanya? Saat itu juga hujan, sama seperti ini. Kita juga berada di kafe yang sama..." air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya yang elok. Aku hanya dapat tersenyum miris mendengarnya. Air mataku yang sedari tadi sudah keluar, sekarang bertambah deras. Mereka semua hanya dapat terdiam memandang kursi yang kududuki, yang hanya tampak kosong di mata mereka.

"Sudahlah, hal itu sudah terjadi tiga tahun yang lalu... Dia sekarang sudah tidak ada... Kau pun tahu itu..." Kemudian mereka berbalik menuju pintu dan keluar. Kembali meninggalkan aku yang hanya dapat menatap lelaki itu dengan penuh sayang tanpa pernah dapat berbuat apa-apa. Saat semuanya sudah terlambat. Aku hanya dapat menunggunya di sini, setiap hari, tanpa henti. Dirinya yang selalu datang tiap hujan turun. Hanya dapat mengulangi rasa sakit di jantungku yang tak lagi berdetak.

Nama. Itu saja yang aku butuhkan darinya. Hanya sebuah nama, hanya itu yang dapat membuatku tenang untuk selamanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Same as before

tadi gw baru aja selesai nonton planet 51. gw suka idenya, tapi ada sesuatu yang menyedihkan, ide itu pernah gw ungkapkan waktu kelas 1 SMP dan alhasil gw diketawain ama temen-temen gw... dan akhirnya ada film yg idenya mirip dengan pemikiran gw waktu itu. dan skrg mungkin temen itu udah ga inget ttg celaannya dia waktu itu...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Feminitas...

ini gw bikin sebenernya buat jurnal logpen gw, tp stlh gw pikir-pikir, mungkin bagus juga kalo gw share, karena gw yakin bukan cuma gw cewe yg ngerasa gini...

Feminin dan Diri Saya Apa Adanya

Akhir-akhir ini saya banyak mendapat curhatan mengenai cinta dari teman-teman saya. Kalau dulu yang banyak bercerita adalah teman-teman saya yang perempuan, sekarang adalah teman-teman lelaki saya. Hal yang wajar memang, bahwa mereka bercerita mengenai perempuan yang mereka sukai. Bagaimana pun mereka juga bisa jatuh cinta sebagaimana layaknya perempuan. Hal yang membuat saya heran adalah, ada seorang di antara mereka yang berkata, “dia emang kelihatan tomboy dari luar, tapi di dalam hatinya sebenernya dia sangat feminin.” Setiap perempuan memang sebenarnya, tidak peduli seperti apa pun sikap yang dia tunjukkan, memiliki sifat feminin yang mungkin hanya dia tunjukkan pada saat-saat tertentu saja.

Sejak saya kecil dahulu, saya selalu diledek “gendut”, “gembrot”, dan lainnya baik oleh keluarga, maupun teman-teman saya. Mungkin sebab itulah yang kemudian membentuk saya menjadi seperti ini. Selain itu, karena ukuran tubuh saya yang terhitung ‘besar’, hampir tidak ada yang memperlakukan saya sebagaimana layaknya seorang perempuan. Pada awalnya saya menganggap hal ini baik-baik saja dan bukanlah sebuah masalah yang benar-benar berarti, saya pun tidak merasa keberatan dianggap sebagai ‘perempuan yang kuat’ dan justru merasa bangga karenanya. Namun kemudian saya menyadari, semakin sedikit teman lelaki saya yang menganggap bahwa saya butuh bantuan dan bahwa saya memang benar-benar kuat, sehingga mereka tidak lagi menganggap saya sebagai seorang perempuan dan menganggap saya lebih kepada salah seorang teman lelakinya. Awalnya saya mengikuti alur mereka dan merasa hal itu baik-baik saja. Malam ini, kalimat dari teman saya tersebut terasa seperti menyentak saya, mereka dapat melihat sisi feminin dari perempuan lain, tetapi tidak melihat bahwa saya juga seorang perempuan. Saya berkata ini bukan karena saya berharap bahwa mereka dapat jatuh cinta pada saya atau lain hal seperti itu, tidak. Saya berkata ini karena saya merasa kecewa kepada sikap mereka yang seringkali merasa aneh dan meledek saya bila saya bersikap feminin atau setidaknya berpakaian feminin.

Ketika SMP dulu, saya pernah memotong rambut saya hingga seleher, membuat saya tampak seperti anak laki-laki. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan saya lelah karena hampir tidak pernah dianggap sebagaimana layaknya perempuan. Sejak rambut saya sependek itu, banyak teman saya yang memuji bahwa saya tampak seperti anak laki-laki yang sangat manis. Saya akui, di satu sisi saya merasa sangat senang karena jarang sekali saya menerima pujian bahwa saya manis, tetapi di sisi lain saya juga merasa sedih dan kecewa, bagaimana pun saya dipuji manis bila dipandang sebagai anak laki-laki, dan bukannya sebagai seorang anak perempuan.
Hal-hal inilah yang kemudian pada akhirnya membentuk saya seperti saat ini. Saya sulit untuk menerima pujian seperti ‘cantik’, ‘manis’, dan sebagainya tanpa berpikir bahwa orang yang memuji saya mungkin mengalami kerusakan pada penglihatannya. Sekarang ini pun saya jadi semakin sering mengucapkan bahwa saya ganteng dan sering melontarkan lelucon mengenai jenis kelamin saya. Ini semua karena saya sudah merasa muak dan menyerah untuk mencoba bersikap feminin karena toh pada akhirnya banyak yang justru menganggap aneh diri saya bila saya bersikap demikian. Hal ini pulalah yang membuat saya tidak suka dengan nama saya, Anindya Asri Hastungkara. Hanya nama Hastungkara-nya saja yang saya suka. Mengapa? Karena Anindya merupakan bahasa Jawa kuno yang berarti ‘cantik’, sedangkan Asri berarti ‘enak dipandang’. Saya merasa bahwa kedua nama ini sangat tidak menggambarkan diri saya yang sebenarnya. Nama Hastungkara masih dapat saya terima karena arti yang dikandungnya adalah ‘yang diberkahi’ dan memang saya merasa telah diberi banyak berkah oleh Yang MahaKuasa dalam menjalani hidup sampai saat ini. Saya lebih menyukai nama Wulan pemberian ibu saya karena nama Wulan berarti ‘bulan’ dalam bahasa Jawa. Nama Wulan ini saya rasa lebih menggambarkan diri saya karena saya merasa saya memang seperti bulan. Bukan hanya karena bentuknya yang bulat (yang seringkali disinggung oleh beberapa teman saya mengapa nama ini sangat cocok untuk saya) dan permukaannya yang berkawah-kawah (seperti keadaan wajah saya yang seringkali disinggung oleh ibu saya), tetapi juga aura misterius yang sepertinya menyimpan banyak hal di dalamnya, termasuk sisi feminin itu.

Saya hanya dapat berharap bahwa suatu hari saya dapat benar-benar bersikap jujur mengenai diri saya dan dapat diterima oleh orang-orang di sekitar saya akan sikap-sikap feminin yang mungkin akan saya tampilkan. Memang sulit untuk mengubah apa yang sudah terpatri selama bertahun-tahun, tetapi kita tidak akan pernah tahu keberhasilan dari suatu hal sebelum benar-benar mencobanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments

Jatuh Cinta

Post kali ini, terinspirasi dari gw yg tadi jatoh nungging dpn selasar di kampus! Hha! Berawal dari sampah, hingga jd filsafat cinta! *apa deh!?* ya pada intinya gt lah! *apa yg gt?* udah woi! Lanjut ke cerita! *udah ah, gw capek* kalo gt berenti ngmng! *...*

Jadi, gw baru kepikiran tb2, kenapa mencintai seseorang dibilang jatuh cinta? Pernah ada yg ngerasain jatoh ga? Gmn rasanya? Sakit kan? Nah! Itu jg sama buat cinta! Makanya ada kan bbrp lagu yg judulnya love hurts? (yg gw tau sih dinyanyiin ama incubus, ada yg lain lg ga sih?) mungkin itulah kenapa dibilang jatuh cinta, jatoh itu sakit, sama kayak jatuh cinta.

Bukan cuma dari segi sakitnya aja, tp juga dari segi rasa lain selain sakit. Coba, kalo udah jatoh trus kakinya sakit dan berdarah, rasanya kan perih-perih panas-anget gitu kan? Hha! Menurut gw sih itu sama bgt kayak cinta! Di satu sisi itu ngebuat lu nyaman dan anget, di sisi lain itu ngebuat lu sakit! Cinta dan luka krn jatoh juga sama-sama bikin lemah! Kalo abis jatoh dengkul kanannya luka (gw bgt ni), akhirnya jalannya jd pincang kan? Sampe akhirnya luka itu sembuh. Sama halnya kayak cinta. Sakit yang dirasakan waktu jatuh cinta bakal bikin kita lemah krn kita susah buat fokus selain ke dia dan rasanya separo diri kita ada dia kan? Sampe akhirnya kita ada di sisinya sebagai pasangannya. It's totally the same!

Itu aja deh buat hr ini! Heheh!

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS
Read Comments